Melawan Lupa
Melawan Lupa
Kilas balik 23 Tahun Lalu
Waktu adalah makhluk Tuhan yang tidak bisa lepas dari perjalanan hidup manusia. Ia berwujud rentang atau jarak yang membedakan lalu, kini dan akan datang.
Adanya waktu membuat kehidupan menjadi dinamis. Manusia bisa menilai, mengevaluasi dan berintrospeksi lakon hidupnya di pentas alam semesta.
Manusia yang berpikir dan cerdas akan menatap masa lalu sebagai sebuah kenangan atau sejarah yang wujudnya memiliki kelebihan dan kekurangan.
Kelebihan harus dilestarikan dan ditingkatkan, sementara kekurangan perlu ditinggalkan atau disempurnakan.
Masa kini adalah saat yang paling menentukan bagi masa depan. Apa dan sejauh mana yang dilakukan oleh manusia saat ini, itulah yang akan menjadi bagiannya nanti.
Meramalkan masa depan itu ternyata tidak terlalu sulit karena merupakan konsekuensi apa yang dilakukan saat ini.
Manusia atau kelompok manusia yang merencanakan dan memenej kehidupan dengan baik dengan planing yang jelas, baik jangka pendek, menengah dan panjang, diprediksi akan menjadi penentu di masa depan, atau setidaknya tidak menjadi korban.
Memanfaatkan waktu dengan baik adalah keniscayaan jika berharap masa depan yang lebih baik atau terbaik.
Waktu adalah uang adalah pepatah inggris yang sering terdengar, atau waktu laksana pedang kata orang arab. Keduanya menunjukkan urgengensi pemanfaatan waktu, walau yang pertama sarat ideologi materialisme dan yang kedua lebih mewakili ajaran Islam.
Karena masa lalu adalah kenangan atau sejarah, maka momentum pengumuman atau wisuda santri pesantren Musthafawiyah pada tanggal 18 April 2018 kemaren mengingatkan saya pada 23 tahun lalu, saat saya juga diwisuda dari pesantren ini.
Sebagai ketua Kamus Pusat, saya diamanahi memberikan sambutan dan menyerahkan hadiah kepada 25 orang terbaik dari 873 orang yang diwisuda saat itu.
Prosesi penyerahan hadiah inilah yang mendebarkan itu, karena mengingatkan saya pada suasana batin saat menjadi pihak penerima hadiah kala itu.
Saya yang dulu juara satu saat diwisuda tahun 1995, hari ini memberi hadiah kepada juara satu tahun 2018.
Sontak jantung ini berdebar kencang mengingat suasana batin saat itu. Betapa bahagia dan senangnya, karena perjuangan panjang yang luar biasa berbuah hasil maksimal, yaitu juara.
Lalu saya berbisik kepada sang juara itu, 23 tahun lalu saya yang di posisi ini, dan sekarang adinda mengambilnya. Saya senang dan bahagia dan kami berpelukan dengan penuh haru.
Begitulah waktu berputar setiap saat. Mereka yang mengisi dan memanfaatkan nya dengan baik akan sukses, dan jika sebaliknya akan gagal.
Semoga kita dapat memanfaatkan waktu yang tersisa ini untuk menghasilkan karya2 terbaik. Amin..
Comments
Post a Comment